::Ramadan Yang Manis::

Alam itu cantik—gunung dan tasik;
maya terlalu indah—laut dan mega.
Lapar dan dahaga yang mengiktibar
cekal dan bersih suara mengajar:
Lapar kita dahaga yang menguji,
dahaga kita lapar yang mengerti—
ketaqwaan penuh terhadap Illahi.
Puasa—musim manis, bahang menguji,
angin yang santun ke pohon dakwah
bergugus dan sihat buah ibadahnya.

Bulan menyimpan kebijaksanaan,
musim indah di taman Ramadan,
menyerlahkan kemanusiaan luar biasa,
menginsafi keagungan Maha Kuasa.
Daun yang gugur tanah yang rekah
di atas sejadah harum iklimnya;
surah yang jernih dan suara syahdu
terhantar ke lidah dari damai qalbu,
merubah derita ke bahagia diri,
membimbing hidup yang diredhai.

Solat malam, zikir doa, tulus sedekah
ibadah ummah, tangkai yang ketiga,
mengagumi Allah Subhanahu Wa Taala.
Langit beradab, kelam dan cerah
datang dan pulangnya iktibar berhemah.
Badik ketika murka, senyum sewaktu mesra,
alam, insan khusyuk menyujud Illahi
sekiblat dalam tautan kasih yang hakiki.
Lailatul qadar ia pada detik terpilih
malam yang manis, indah dan jernih.

Pada malam sabar dan siang yang cekal
ranum pohon hikmah sebagai bekal;
gugus permata, kerlipnya paling mesra,
merimbun bugar, daunnya meneduhi ummah.

A. Samad Said

This entry was posted in Memoir. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s